Tampilkan postingan dengan label pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2016

APLIKASI MS EXCEL UNTUK PEMBELAJARAN VEKTOR

Salam wr wb.

Setelah lama tidak posting ... Rekan-rekan semuanya, di sini saya buat sebuah aplikasi untuk Pembelajaran Vektor dengan Metode JajarGenjang dan Analisis.

Kini Aplikasi Pembelajaran Vektor telah saya update sampai versi 1.3. Pada versi ini, sudah dikembangkan fitur-fitur:


  • Penjumlahan Vektor Cara Polygonal

  • Penjumlahan Vektor Cara Jajargenjang

  • Penjumlahan Vektor Cara Analitis



vektor-poly-1

analisis-vektor-4

analisis-vektor-2

Dalam aplikasi v.1.3 ini belum saya ikutkan tampilan sudut di grafik, baik vektor 1 terhadap sumbu x, vektor 2 terhadap sumbu x maupun vektor Resultan terhadap sumbu x. Juga saya cantumkan kwadran sudut resultan yang terbentuk.

Semoga untuk versi berikutnya akan terlengkapi. Amiin.

Semoga Bermanfaat ... !!! Download aja link berikut!



Analisis Vektor v.1.3



p19t5hoe501p13e11hdh17nn3k53

Senin, 12 Januari 2015

LUAR BIASA ... 1 SISWA 1 TABLET

Memang Luar biasa rencana program menteri pendidikan Indonesia yang baru. Upaya mingkatkan mutu pendidikan dengan tablet memang layak diapresiasi. Tapi.... inilah beberapa komentar yang terjadi di media sosial.



# Ada-ada saja, listrik aja gak ada... konon tablet



# Kalau anak-anak diberi tablet, kebanyaan main game



# Wah bagus itu, hemat biaya beli buku



# Mantap, gak pakai kertas, jadi hutan tidak gundul



# dll... bersambung



 

Selasa, 27 Mei 2014

Ada 13 Model Pembelajaran Inovatif

Pengertian Inovatif/Inovasi Pendidikan

Inovasi berasal dari kata latin, Innovation yang berarti pembaharuan dan perbuahan. Inovasi adalah suatu perubahan yang baru yang menuju kearah perbaikan yang lain atau berbeda dari yang sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana (tidak secara kebetulan saja).



Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang disarankan atau diamati sebagai hal yang baru bagi hasil seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil inverse (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.



Demikian pula Ansyar, Nurtain (1991) mengemukakan inovasi adalah gagasan, perbuatan, atau suatu yang baru dalam konteks sosial tertentu untuk menjawab masalah yang dihadapi.



Selanjutnya dijelaskan bahwa sesuatu yang baru itu mungkin sudah lama dikenal pada konteks sosial lain atau sesuatu itu sudah lama dikenal, tetapi belum dilakukan perubahan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa inovasi adalah perubahan, tetapi tidak semua perubahan adalah inovasi. Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetap ijuga di segala bidang termasuk bidang pendidikan.pembaruan pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen system pendidikan.



Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal. Kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada outputnya sehingga akan muncul pengakuan yang rill dari siswa, orang tua dan masyarakat. Namun sekolah/ lembaga pendidikan tidak akan meraih suatu pengakuan rill apabila warga sekolah tidak melakukan suatu inovasi di dalamnya dengan latar belakang kekuatan, kelemahan tantangan dan hambatan yang ada.



Menurut Santoso (1974), tujuan utama inovasi adalah, yakni meningkatkan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.



Tujuan Inovasi Pendidikan



 Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas: sarana serta jumlah pendidikan sebesar-besarnya (menurut criteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan pembangunana), dengan menggunakan sumber, tenga, uang, alat, dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya.



Senin, 21 Mei 2012

Animasi Untuk Presentasi Pembelajaran, Perlukah?

Di beberapa tempat saya mengajar, pembuatan media pembelajaran merupakan salah satu aspek penting yang masih tertinggalkan. Beberapa dosen yang membawa mata kuliah Media pengajaran masih berkutat pada materi keilmuan (secara ilmiah) tentang media.


Hal ini ditunjukkan dengan data dan fakta, bahwa mahasiswa masih disuruh presentasi tentang media yang dibagikan kepada beberapa kelompok, yang berakhir pada paparan dari Bab ke Bab setiap pertemuannya sampai akhir.


Melihat hal ini saya menjadi miris, kalau yang dibahas hanya teori-teori yang terkait dengan media tersebuat, kapan lagi mereka (mahasiswa) mengembangkan medianya? Memang jumlah SKS untuk Media Pengajaran masih sedikit, yakni 2 SKS. Namun karena ini penting, menurut hemat saya, perlu dibagi beban kuliah ini menjadi 35 : 65, yakni teori 35% dan pengembangan praktik 65%.


Ke depan, mungkin disela waktu, akan saya muat tutorial pembuatan multimedia animasi untuk melengkapi presentasi guru/dosen.


Doain ya.


Salam Pendidikan !!!

Selasa, 08 November 2011

SEKOLAH, UNTUK APA?

Oleh Rhenald Kasali


Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah. Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang "salah kamar".


Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja.


Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini.


Rabu, 02 Juli 2008

Memanfaatkan SMS Untuk Pembelajaran

Jika dilihat perkembangan sehari-hari, ponsel terus berkembang baik dari segi bentuk,



teknologi, fitur danlainnya. Namun yang pasti, pemanfaatan ponsel dalam kehidupan sehari-hari tidak jauh dari SMS dantelepon yang merupakan fungsi asalnya.



Ponsel bukan merupakan barang mewah seperti di zaman saat pertama keluarnya (1990an), namun sudah seperti kacang goreng, sehingga anak sekolahan tingkat SD sudah banyak yang menggunakannya. Namun yang disayangkan, dengan semakin banyaknya siswa pengguna ponsel tetapi belum termanfaatkan untuk pembelajaran.

Dengan adanya perkembangan ponsel saat ini, ditambah dengan persaingan harga oleh beberapa operator, sebenarnya ponsel dapat digunakan untuk media pembelajaran. Hasil penelitian di Yogyakarta, siswa lebih senang membaca SMS di ponsel ketimbang membaca buku pelajaran. Dari sini dapat diambil suatu pelajaran, jika konten suatu SMS dimodifikasi, dengan isi berupa pelajaran, maka secara tidak langsung siswa akan membaca pelajarannya.

Saat ini operator seluler berlomba memberikan fasilitas SMS murah, mulai dari harga per-karakter sampai biaya SMS perbulan cuma Rp. 5000,- sesama operator. Jika fasilitas ini dapat digunakan, sebuah sekolah dapat mengirimkan SMS secara gratis kepada siswa-siswanya. Misalkan jumlah siswa 500 orang, maka dapat dikirimkan SMS berupa konten pendidikan kepada semua siswa (khususnya yang memiliki ponsel dan kartu sejenis). Dari pengalaman/keyakinan penulis, terdapat beberapa konten (isi) SMS yang dapat dikirimkan lewat SMS, diantaranya:

1) Kata-kata mutiara atau kalimat motivasi

Jika suatu sekolah mengirimkan 1 SMS di tiap pagi (katakanlah jam 05.30 WIB), maka SMS ini akan berfungsi sebagai ALARM kepada siswa (akibat/jika berbunyi). Selanjutnya, dengan membaca SMS yang mungkin berisi kata mutiara "SELAMAT PAGI, TIADA KATA SEINDAH DOA" atau "ASSALAMU ALAIKUM, TIDAK SATUPUN MAKHLUK DICIPTAKAN SIA-SIA, KAMU HARUS BERBUAT BAIK HARI INI", dan sebagainya dipastikan motivasi siswa akan bertambah.

2) Kosa kata (vocabulary)

Bahasa asing (Inggris) merupakan salah satu momok bagi sebagian besar siswa. Jika sekolah mengirimkan 1 SMS disiang hari (katakanlah jam 14.00 WIB), berisi kosa kata bahasa Inggris, maka 1 SMS (yang terdiri l.k. 160 kata) dapat dibuat 3-4 kosa kata. Misal isi 1 SM: archipellago = kepulauan; island = pulau, gulf = teluk. Tentunya isi SMS dapat disesuaikan dengan Pokok Bahasan Bahasa Inggris kelas I, II dan III. Dapat dibayangkan jika seorang siswa membaca 3 kosa kata perhari, maka sedikitnya ada 90 kosa kata sebulan. Dan tidak salah jika sekkolah (guru) mengirimkan 10 kosa kata perharinya.

3) Nasehat, Kata Hikmah, Ayat, Hadits

Mungkin, sejalan untuk meningkatkan akhlak (pendidikan nilai) mengirimkan kata-kata nasehat, ayat atuapun hadits sangat membantu mengontrol siswa. Meskipun tidak 100% menjamin, membaca suatu yang baik sedikitnya akan memberikan bekas kepada siswa, bahkan komponen sekolah.

Selain memberikan kata nasehat, SMS dapat pula berisi pelajaran yang tidak berbau matematis, semisal Biologi, Bahasa Indonesia dan lainnya.

4) Pengumuman dan Informasi

Selain konten di atas, SMS dapat pula digunakan untuk mengumumkan Hasil Ujian Siswa, Penerimaaan Siswa Baru, Informasi Alamat instansi dan individu. Jika SMS ini dipadukan dengan teknologi komputer, maka komunikasi tidak lagi searah, namun menjadi interaktif.

5) Kemungkinan Ujian Online via SMS

Tingkat lanjut SMS ini bisa digunakan untuk ujian online (kasus tertentu), hal ini tentunya mengaitkan database komputer dan jaringannya. Jika komputer digunakan untuk pengriman SMS massal (seperti Server Dealer Pulsa online) dan penggunaan keyword-keyword tertentu untuk SMS interaktif, maka pemanfaatan SMS untuk pembelajaran semakin efektif dan efisien. Cukup menempatkan 2-3 pegawai yang mahir untuk operator dan adminnya.

Terdapat kemungkinan lain penggunaan SMS untuk pembelajaran, sejalan dengan perkembangan teknologi telekomunikasi itu sendiri, namun yang paling penting adalah bagaimana melihat peluang yang ada untuk kepentingan pembelajaran.

Peluang dan Tantangan

Tidak semua siswa memiliki ponsel, namun dari kondisi yang ada di lapangan, siswa tingkat SD saja telah memiliki ponsel. Jika melihat aktivitas mereka, penggunaan ponsel masih seputar chatting yang tidak jalas ujung pangkalnya. Jika sekolah melihat peluang ini, terdapat banyak inspirasi agar siswa semakain "belajar".

Suatu sekolah yang memiliki l.k. 1000 siswa jika 65% nya (sekitar 650 siswa) bisa membuat SMS pendukung pembelajaran ini, maka secara tidak langsung membantu operator selular, jika operator bisa memberikan keringanan kepada para siswa dalam memliki ponsel dan kartu perdananya, maka kerjasama "mutualisme" anatara pendidikan (sekolah) dan operator seluler akan terwujud. Bagaimana jika seandainya mayoritas sekolah di Indonesia menerapkan SMS pembelajaran ini? Mungkin kita sudah tahu jawabannya.

Penutup

Tidak semua pelajaran dapat diungkapkan lewat SMS, namun adanya peluang untuk SMS "sangat murah" dari suatu operator, dapat dimanfaatkan untuk pembelaran lewat SMS. Tidak hanya materi ajar saja, kegiatan konsultasi dan bimbingan dapat pula menggunakan SMS. Adanya keberatan guru/individu/siswa menggunakan SMS untuk diskusi, pada dasarnya diberatkan pada pulsa SMS yang mahal. Namun dengan peluang yang ada, hambatan SMS mahal ini sudah dapat diatasi. SMS sangat murah untuk semua operator belum tersedia saat ini, tapi setidaknya telah membantu komunikasi murah (seperti email) lewat SMS meskipun kontennya tidak bisa sepanjang email.

Gara-Gara Ntar

Rahasia Kuno Nusantara: Kenapa Kita Ngukur Waktu Pake Kedipan Mata? Pernah gak sih lo mikir, dari mana asalnya kata "sebentar" ata...