Tampilkan postingan dengan label TI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2009

MENGGAGAS DAN MENGGEGAS SEKOLAH BERBASIS TELEMATIKA

Makalah ini telah dimuat dalam Jurnal Balai Diklat Teknis Keagamaan Depag Sumbagut - Medan, edisi Nopember 2009.


A. Pendahuluan


Saat ini era 3G telah dijalani dan bahkan sebentar lagi akan ditinggalkan. Dari awal tahun 2000an, era telematika sebenarnya telah memasuki 2,5G (ditandai dengan teknologi telekomuniasi/internet GPRS dan EDGE) dan saat ini sedang menjalani era 3G (ditandai dengan HSDPA dan EVDO) dan tak lama lagi akan memasuki era 3,5 G, bahkan Singapura saat ini telah siap-siap memasuki era 4G. Era 3G yang dimaksud adalah era dimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah berada pada tahap ke-3 yang ditandai dengan menyatunya perangkat telekomunikasi dan komputer khususnya internet dengan gejala sosial yang menunjukkan individu-individu mengakses internet dari ponselnya.


Download makalah lengkap dari Ziddu

Selasa, 07 Juli 2009

Mutu Sekolah tidak Sebanding dengan Fasilitas IT-nya

Salam Wrwb





Mutu sekolah tidak bisa dilihat dari besar Prosentase yg lulus UN, apalagi dilihat dari fasilitas IT sekolahan tsb. Untuk itu kita harus lihat dulu, untuk UN tsb apanya yang diukur? bagaimana Alat Ukurnya? Bagaimana standardnya?



Berdampingan dengan masalah UN, fasilitas IT adalah sebagai penunjang. Dalam bahasa filsafatnya, Teknologi (techne) merupakan alat bantu manusia untuk mencapai tujuannya. Jika alat yang ada tidak berfungsi atau tidak dimanfaatkan dengan baik/sebenarnya, maka perangkat IT yang lengkap bisa menjadi kendala, bukan penunjang.



Contoh sederhananya, mungkin kita punya alat2 Tang, Obeng, Martil, Kunci Inggris dsb. Apa jadinya jika Tang digunakan untuk memukul paku, Obeng dibuat untuk melobangi papan (bahkan ada yg menggunakannya sbg senjata?), Kunci Inggris digunakan sebagai pemukul dsb?



Nah, selain itu ada faktor keselamatan kerja, ada pemeliharaan dan perbaikan (M&R), jika ini tidak berjalan, maka selaras dengan fasilitas IT td, jangankan mendapatkan hasil (penunjang mutu) di sekolah, eeeehhhh malahan menjadi "beban".



Materi Pelajaran UN "membosankan" ?



Bisa jadi, saat ini mata pelajaran UN sudah membosankan di mata siswa, belum lagi tingkat kesulitan materinya. Sementara lingkungan dan pasar (tenaga kerja) terus bergerak mengikuti TRENDnya, kita masih menyuguhkan materi yg "mungkin" tidak dibutuhkan siswa di masa depannya.



Dengan melihat trend dan perkembangan yang ada, siswa pasti akan mencoba mengikutinya. Sudah pasti terlihat oleh siswa-siswa kita, bagaimana orang yang bekerja di bidang IT (telematika) , penghidupan yang lumayan dsb. Begitu juga perangkat teknologi yg dipegang dan dilihatnya sehari-hari.



Siswa jg akan membandingkan, "senioren"nya yang dulunya "jago" Matematika, Fisika, Kimia (dan bidang Basic Sains lainnya), mungkin dari penghidupan saja sudah terlihat. Alhasil para siswa sering mengabaikan Basic Sains ini, dan bahkan diperparah lagi dengan ketidakmampuan guru mensinergikannya dengan kemajuan teknologi saat ini khususnya telematika/TI.



Kita berharap, fasilitas TI yg lengkap seharusnya menjadikan pembelajaran UN dan lainnya menjadi menyenangkan bagi siswa dan kemudahan bagi guru. Contoh sederhananya: adanya animasi multimedia sangat berguna untuk menggantikan benda nyata, spt jenis2 ikan/hewan (Biologi), Jangka sorong (Fisika), ikatan atom/molekul (Kimia) dsb.



Namun jangan lupa, trend belajar saat ini adalah:

"SEBERAPA CEPAT ANDA BELAJAR ?

BUKAN LAGI APA YANG ANDA PELAJARI ?"

Senin, 18 Agustus 2008

Perubahan di Dunia Pendidikan Nasional, Dimulai dari Guru

Tulisan ini merupakan diskusi di milist Guru-Tendik@yahoo.com. Untuk penyebaran informasi, saya muat di blog pribadi, siapa tahu bermanfaat.



Perubahan merupaan suatu yang alami. Manusia jika tidak berubah pasti akan tertinggal. Terkait dengan pendidikan, minimal berubahlah secara pribadi. Salah satu tolok ukur belajar adalah terjadinya perubahan, dimana terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu.

Bagi guru, yang penting adalah terus belajar. Saat ini kecenderungan belajar siswa berubah secara drastis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa lebih senang membaca SMS ketimbang membaca buku. Ini menunjukkan bahwa, kita sebagai guru mesti menyikapi perkembangan yang ada. Kita tahu bahwa ponsel merupakan teknologi yang pasti memiliki dampak positif dan negatif. Jika guru (pihak2 terkait) tidak berubah, maka pembelajaran yang diharapkan oleh seorang guru dari siswanya akan menghasilkan kenihilan.

Untuk kasus di atas (SMS), mungkin ada baiknya para guru memikirkan bagaimana menggunakan SMS untuk pembelajaran. Ini masih satu contoh, ke depan sejalan dengan perkembangan teknologi Informasi dan komunikasi, mungkin anak2 akan di depan internet (seperti di depan TV skrg) berjam-jam. Untuk itu pola pembelajaran pun harus diubah.

Dengan perkembangan yang ada, seyogianya pemerintah memperhatikan ini semua. Sailing Wen (penulis buku "Masa Depan Media") bahkan menyatakan pada Dekade ke-2 abad 21 ini, kemungkinan sekolah2 di negara maju akan didatangi siswa paling2 cuma 2 kali seminggu. Ini dapat dipahami, karena kecenderungan anak balajar online saat ini saja sudah mulai nampak. Tingkat SD saja masing2 sudah menggunakan laptop dan terhubung ke internet.

Jadi, meskipun kita "masih jauh panggang dari api" dalam hal penggunaan teknologi untuk pembelajaran, namun setidaknya sudah meramu dasar-dasar sistem dan metode pembelajaran untuk ke depan, jika tidak mau terus tertinggal jauh.

Lantas, apa yang harus kita lakukan sebagai guru?
Yang pasti, kita harus terus belajar, berubah dan terus berinovasi, meskipun untuk diri sendiri. Jika perubahan ke dunia luar belum bisa kita lakukan, namun untuk kebutuhan pendidikan anak2 kita dalam keluarga pasti sangat bermanfaat.

Salam Pendidikan,
Maaf jika kurang berkenan.

Rabu, 02 Juli 2008

Memanfaatkan SMS Untuk Pembelajaran

Jika dilihat perkembangan sehari-hari, ponsel terus berkembang baik dari segi bentuk,



teknologi, fitur danlainnya. Namun yang pasti, pemanfaatan ponsel dalam kehidupan sehari-hari tidak jauh dari SMS dantelepon yang merupakan fungsi asalnya.



Ponsel bukan merupakan barang mewah seperti di zaman saat pertama keluarnya (1990an), namun sudah seperti kacang goreng, sehingga anak sekolahan tingkat SD sudah banyak yang menggunakannya. Namun yang disayangkan, dengan semakin banyaknya siswa pengguna ponsel tetapi belum termanfaatkan untuk pembelajaran.

Dengan adanya perkembangan ponsel saat ini, ditambah dengan persaingan harga oleh beberapa operator, sebenarnya ponsel dapat digunakan untuk media pembelajaran. Hasil penelitian di Yogyakarta, siswa lebih senang membaca SMS di ponsel ketimbang membaca buku pelajaran. Dari sini dapat diambil suatu pelajaran, jika konten suatu SMS dimodifikasi, dengan isi berupa pelajaran, maka secara tidak langsung siswa akan membaca pelajarannya.

Saat ini operator seluler berlomba memberikan fasilitas SMS murah, mulai dari harga per-karakter sampai biaya SMS perbulan cuma Rp. 5000,- sesama operator. Jika fasilitas ini dapat digunakan, sebuah sekolah dapat mengirimkan SMS secara gratis kepada siswa-siswanya. Misalkan jumlah siswa 500 orang, maka dapat dikirimkan SMS berupa konten pendidikan kepada semua siswa (khususnya yang memiliki ponsel dan kartu sejenis). Dari pengalaman/keyakinan penulis, terdapat beberapa konten (isi) SMS yang dapat dikirimkan lewat SMS, diantaranya:

1) Kata-kata mutiara atau kalimat motivasi

Jika suatu sekolah mengirimkan 1 SMS di tiap pagi (katakanlah jam 05.30 WIB), maka SMS ini akan berfungsi sebagai ALARM kepada siswa (akibat/jika berbunyi). Selanjutnya, dengan membaca SMS yang mungkin berisi kata mutiara "SELAMAT PAGI, TIADA KATA SEINDAH DOA" atau "ASSALAMU ALAIKUM, TIDAK SATUPUN MAKHLUK DICIPTAKAN SIA-SIA, KAMU HARUS BERBUAT BAIK HARI INI", dan sebagainya dipastikan motivasi siswa akan bertambah.

2) Kosa kata (vocabulary)

Bahasa asing (Inggris) merupakan salah satu momok bagi sebagian besar siswa. Jika sekolah mengirimkan 1 SMS disiang hari (katakanlah jam 14.00 WIB), berisi kosa kata bahasa Inggris, maka 1 SMS (yang terdiri l.k. 160 kata) dapat dibuat 3-4 kosa kata. Misal isi 1 SM: archipellago = kepulauan; island = pulau, gulf = teluk. Tentunya isi SMS dapat disesuaikan dengan Pokok Bahasan Bahasa Inggris kelas I, II dan III. Dapat dibayangkan jika seorang siswa membaca 3 kosa kata perhari, maka sedikitnya ada 90 kosa kata sebulan. Dan tidak salah jika sekkolah (guru) mengirimkan 10 kosa kata perharinya.

3) Nasehat, Kata Hikmah, Ayat, Hadits

Mungkin, sejalan untuk meningkatkan akhlak (pendidikan nilai) mengirimkan kata-kata nasehat, ayat atuapun hadits sangat membantu mengontrol siswa. Meskipun tidak 100% menjamin, membaca suatu yang baik sedikitnya akan memberikan bekas kepada siswa, bahkan komponen sekolah.

Selain memberikan kata nasehat, SMS dapat pula berisi pelajaran yang tidak berbau matematis, semisal Biologi, Bahasa Indonesia dan lainnya.

4) Pengumuman dan Informasi

Selain konten di atas, SMS dapat pula digunakan untuk mengumumkan Hasil Ujian Siswa, Penerimaaan Siswa Baru, Informasi Alamat instansi dan individu. Jika SMS ini dipadukan dengan teknologi komputer, maka komunikasi tidak lagi searah, namun menjadi interaktif.

5) Kemungkinan Ujian Online via SMS

Tingkat lanjut SMS ini bisa digunakan untuk ujian online (kasus tertentu), hal ini tentunya mengaitkan database komputer dan jaringannya. Jika komputer digunakan untuk pengriman SMS massal (seperti Server Dealer Pulsa online) dan penggunaan keyword-keyword tertentu untuk SMS interaktif, maka pemanfaatan SMS untuk pembelajaran semakin efektif dan efisien. Cukup menempatkan 2-3 pegawai yang mahir untuk operator dan adminnya.

Terdapat kemungkinan lain penggunaan SMS untuk pembelajaran, sejalan dengan perkembangan teknologi telekomunikasi itu sendiri, namun yang paling penting adalah bagaimana melihat peluang yang ada untuk kepentingan pembelajaran.

Peluang dan Tantangan

Tidak semua siswa memiliki ponsel, namun dari kondisi yang ada di lapangan, siswa tingkat SD saja telah memiliki ponsel. Jika melihat aktivitas mereka, penggunaan ponsel masih seputar chatting yang tidak jalas ujung pangkalnya. Jika sekolah melihat peluang ini, terdapat banyak inspirasi agar siswa semakain "belajar".

Suatu sekolah yang memiliki l.k. 1000 siswa jika 65% nya (sekitar 650 siswa) bisa membuat SMS pendukung pembelajaran ini, maka secara tidak langsung membantu operator selular, jika operator bisa memberikan keringanan kepada para siswa dalam memliki ponsel dan kartu perdananya, maka kerjasama "mutualisme" anatara pendidikan (sekolah) dan operator seluler akan terwujud. Bagaimana jika seandainya mayoritas sekolah di Indonesia menerapkan SMS pembelajaran ini? Mungkin kita sudah tahu jawabannya.

Penutup

Tidak semua pelajaran dapat diungkapkan lewat SMS, namun adanya peluang untuk SMS "sangat murah" dari suatu operator, dapat dimanfaatkan untuk pembelaran lewat SMS. Tidak hanya materi ajar saja, kegiatan konsultasi dan bimbingan dapat pula menggunakan SMS. Adanya keberatan guru/individu/siswa menggunakan SMS untuk diskusi, pada dasarnya diberatkan pada pulsa SMS yang mahal. Namun dengan peluang yang ada, hambatan SMS mahal ini sudah dapat diatasi. SMS sangat murah untuk semua operator belum tersedia saat ini, tapi setidaknya telah membantu komunikasi murah (seperti email) lewat SMS meskipun kontennya tidak bisa sepanjang email.

Minggu, 22 Juni 2008

PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM PENDIDIKAN


Makalah ini dilatarbelakangi oleh tinjauan pendidikan yang akan datang (di masa depan), dengan faktor-faktor yang menentukan pendidikan Indonesia nantinya, maka tindakan antisipatif dan adaptif yang tepat dan berwawasan luas dianggap akan mampu mewujudkan pencapaian tujuan pendidikan. Sejalan dengan prinsip pendidikan yang dikemukakan Kasmadi (1992), hendaknya diterapkan dalam perkembangan dunia yang semakin global dengan tantangan utama (oleh Pannen : 1999) masalah nilai tambah dan kesejahteraan, hilangnya batas negara dan dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi pada negara-negara berkembang. Dalam pada itu kesulitan-kesulitan yang dihadapi pendekatan tradisional dan konvensional dalam pemecahan masalah pendidikan menghantarkan pada perlunya pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Makalah ini dibatasi pada pemanfaatan teknologi dalam pendidikan secara umum, yaitu cara pemanfatan teknologi dalam pendidikan.



1. Teknologi Dalam Pendidikan


Berdasarkan beberapa pendapat, pemakalah menyimpulkan Teknologi merupakan penerapan (aplikasi) dari sains yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan mempercepat pencapaian tujuan dari setiap kegiatan yang akan dilakukan. Sedangkan pendidikan dapat diartikan secara sempit (formal) maupun luas (formal maupun nonformal). Dalam hal ini pendidikan diartikan secara alternatif sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.


Teknologi dalam pendidikan mencakup setiap kemungkinan sarana (alat) yang dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam pendidikan dan latihan. Ellington (1989) menyatakan bahwa teknologi dalam pendidikan pada dasarnya adalah apa yang oleh teknologi pendidikan dipopulerkan dengan nama alat bantu pandang dengar (audiovisual aid). Selanjutnya dikembangkan dalam pembelajaran untuk pencapaian tujuan pembelajaran tertentu. Teknologi dalam pendidikan merupakan perpaduan Aspek Teoritis Dalam Pendidikan, Aspek Perangkat Keras (komponen yang saling bergantung tetapi tidak berbeda satu sama lainnya) dan Aspek Perangakat Lunak (berkenaan dengan benda yang dipakai pada perangkat keras).


2. Pemanfaatan Teknologi Dalam Pendidikan


Pengguanaan teknologi telah berjalan lama sesuai perkembangan dan aspeknya. Eric Hasby membagi revolusi dalam pendidikan menjadi 4, yaitu: Pertama, saat masyarakat mendiferensiasikan peranan orang dewasa, Kedua, digunakannya tulisan sebagai sarana pendidikan, Ketiga, ditemukannya mesin cetak dan Keempat, penggunaan teknologi canggih sebagai perkembangan bidang elektronik. Dari apa yang dialami ternyata bahwa terdapat hubungan timbal balik antara teknologi dan pendidikan, hal ini lebih terkhusus lagi dengan teknologi komunikasi.


Kecenderungan pendidikan yang dikaitkan dengan perkembangan teknologi komunikasi dikemukakan Miarso dan Iskandar (1974) sebagai berikut :



a. Kecenderungan pendidikan sepanjang jaga

b.  Pendidikan gerak cepat tetapi tepat

c. Pendidikan yang mudah dicerna dan diresapi

d.  Pendidikan yang memikat hati

e.  Penyebaran pusat pendidikan

f.  Pendidikan mustari (tepat pada saat penyampaiannya)

g.  Pendidikan yang murah

Kegunaan teknologi dalam pendidikan dinyatakan Komisi Instruksional AS, sebagai berikut :



a.  meningkatkan produktivitas pendidikan

b. memungkinkan pendidikan individual

c. memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran

d. lebih memantapkan pengajaran

e. memungkinkan belajar seketika

f. memungkinkan penyajian pendidikan lebih luias dan merata

Agar penggunaan teknologi dalam pendidikan tepat sasaran, maka pengelola pendidikan harus mengetahui klasifikasi teknologi dalam pendidikan, di antaranya : teknologi tingkat rendah, media audiovisual, format komputer, telekomunikasi dan teknologi lunak.


3. Implementasi Teknologi Dalam Pendidikan


Implementasi teknologi dalam pendidikan dapat dilihat pada sektor berikut:


a. Pendidikan Dasar dan Menengah, teknologi diharapkan mempengaruhi peningkatan motivasi, menguatkan pengajaran, meningkatkan lingkungan psikologi di dalam kelas


b. Pendidikan Tinggi, penggunanan teknologi dimaksudkan untuk merangsang dan memotivasi mahasiswa dalam mengembangkan intelektualnya sehingga dapat mengembangkan penelitian dan pengembangan ilmu baik teoretis maupun terapan


c. Belajar Jarak Jauh, menyediakan media perantara antara pelajar dan lembaga pendidikannya


d. Pendidikan Luar Biasa, berfungsi sebagai alat bantu bagi anak-anak yang menglami kelainan


e. Pendidikan dan Latihan, berpengaruh langsung terhadap persiapan tenaga kerja yang semakin kompleks untuk menghasilkan tenaga terampil


f. Dalam Pendidikan Matematika, hal ini berkaitan dengan program-program yang telah disiapkan, alat peraga dan penyelesaian soal-soal


g. Dalam Pendidikan Sains, beruapa aplikasi program komputer dan sistem pemodelan



h. Dalam Pendidikan Bahasa, berkaitan dengan penulisan, mendengarkan, telekomunikasi dan lainnya.

Simpulan
Teknologi dalam pendidikan merupakan bagian dari konsep teknologi pendidikan berupa media untuk memperlancar kegiatan instruksional. Potensi penggunaan teknologi dalam pendidikan berkaitan dengan usaha peningkatan produktivitas pendidikan, memungkinkan pendidikan bersifat individual, cepat dan lainnya. Implementasi teknologi dalam pendidikan hendaknya selektif sesuai konteks sesuai karakteristik si belajar dan tingkat kognitifnya.

Jumat, 06 Juni 2008

PERLUNYA ANALISIS KEBUTUHAN DALAM PROGRAM PENGAJARAN & LATIHAN

Suatu program pada dasarnya dilandaskan atas beberapa hal sebelum dilaksanakan. Adalah program magister pengajaran/pendidikan di beberapa perguruan tinggi dibentuk atas suatu analisis program sebelum dilaksanakan. Hal ini sebagaimana suatu program pelatihan yang memerlukan Needs Assessment (Analisis Kebutuhan). Sudah saatnya mengubah paradigma atau pola top to down menjadi down to top, artinya pelatihan atau suatu progam dilaksanakan harus memenuhi kebutuhan peserta program.


Pogram magister pendidikan, pelatihan dan pengajaran haruslah memenuhi kriteria pengadaan studi kelayakan. Diantaranya entri behavior (dasar memasuki suatu program/prasyarat awal) peserta ajar yang harus sesuai. Dengan entri behavior ini, peserta didik harus memenuhi kriteria homogenitas, dalam artian para peserta harus memenuhi standar yang dibutuhkan. Sebagai bentuk nyata hal ini, dapat diadakan Tes Potensi Akademik (TPA), Tes TOEFL, dan kemampuan dasar semisal Statistika Dasar dan lainnya yang bersesuaian.


Setelah Needs Assessment dilakukan, barulah kemudian dilakukan tes untuk menyesuaikan entri behavior para peserta didik ataupun trainee. Selanjutnya kurikulum disusun sesuai kebutuhan. Sebagai contoh, dipahami abad ini merupakan Abad Informasi, maka untuk pelatihan keguruan, seyogianya pembelajaran/pelatihan mengarah kepada pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) yang mendukurung proses pembelajaran dan pengajaran guru-guru. Jika berkaitan dengan kemampuan praktik, peningkatan kemampuan dalam praktikum dan merancang praktikum, kemampuan metode ilmiah, metode pengajaran MIPA, kemampuan berpikir kritis sesuai filsafat keilmuan, serta presentasi imiah sangat diperlukan.


Namun, yang lebih pasti adalah dengan melaksanakan TNA, kebutuhan mayoritas calon peserta didik dan kebutuhan lapangan (lingkungan sekolah) akan terjawab. Program-program yang tidak up to date, lama kelamaan akan segera tersingkir, “mungkin” inilah sebabnya mengapa diklat-diklat yang dilakukan instansi negeri kurang berkembang.


Selain yang diuraikan di atas, mungkin terdapat kondisi-kondisi lain yang harus diperhatikan dalam program pengajaran dan pelatihan, seperti umur, lama program dan kemampuan berpikir logis. Namun yang pasti, perubahan adalah sesuatu yang mutlak, jika tidak berubah bersiap-siap untuk tertinggal.




DZIKIR & EMPTY

  When we understand quantum physics, at the atomic level, there is empty space between the nucleus and the electrons.  And... Our bodies ar...