Jumat, 26 April 2019

Peluang, Matriks dan Tele-Aroma

Pada tulisan saya yang lalu (13 juni 2008), dibahas bagaimana TV/Internet atau Gadget bahkan Smartphone masa depan bisa mengirimkan aroma (bau) seiring dengan tampilan yang ada di layar. Tulisan yang saya tulis dengan Tele-BAU, Bau yang Ditunggu-tunggu ini secara garis besar bagaimana upaya negara hebat penghasil gadget (gawai) Korea Selatan berupaya mewujudkannya.



Kali ini, terkait dengan tulisan sebelumnya (24/04/2019) Peluang di Ekonofisika Menyinggung TV Beraroma yang awalnya disinggung saat menjelaskan Teori Peluang dalam Ekonofisika dapat dengan dijelaskan jika memadukan materi peluang, matriks, warna dasar, aroma dasar, digitalisasi dan blower.



Setidaknya menurut ilmuwan, terdapat 10 aroma dasar yang dapat dispesifikasikan secara ilmiah. Hasil dari perpaduan ini dapat dibuat kombinasi beragam aroma yang dapat kita nikmati lewat hidung. Kesepuluh aroma ini: Harum, Kayu/resin, Buah-buahan (bukan golongan sitrus), Bahan kimia, Mint/peppermint, Manis, Popcorn, Lemon, Tajam dan Busuk yang dinyatakan para ilmuwan sebagai dasar.



Terlepas dari penamaan A, B, C ... J (sebanyak 10 aroma) perpaduan kesemua ini dapat dibuat dalam bentuk matriks 3 dimensi (ruang). Ini sejalan dengan bentuk aroma tak lain berupa gas, yang mana selalu menempati ruang. Maka dapat dibuat sumbu x-y-z yang masing-masing terdiri dari Aroma A, B, C ... I, J (pada sb x), begitu juga sumbu y dan z. Maka kombinasi matrik dapat berbentuk aroma AAA, AAB, AAC dst ZZZ.



300px-coord_planes_color.svg_



Sebagaimana diketahui, penjelasan di atas analog dengan perpaduan warna yang kita lihat sehari-hari yang merupakan perpaduan 3 warna dasar (Merah, Biru dan Kuning). Untuk menghasilkan Hijau, kita bisa mencampurkan Biru dan kuning dengan perbandingan 1 banding 1. Dengan mengubah-ubah perbandingan, maka diperoleh hijau tua, hijau daun dst.



primarycolors



Dengan analogi yang sederhana dan sama dengan warna (anggap 2 dimensi), maka matriks 3 dimensi dan perbandingan proporsi aroma dapat membentuk ragam aroma yang diinginkan.



Analogi di atas dapat kita lihat dalam praktik printer warna saat mencetak warna-warni tulisan dan gambar. Kita lihat tangki tinta hanya 3 warna (+1 hitam, NB: dalam fisika hitam tidak termasuk warna), namu di kertas cetakan bisa puluhan warna yang muncul.



Kita masih ingat pewangi ruangan di dinding yang automatic, mampu menyemprotkan aroma tiap sekian menit dan tentunya bisa diatur waktunya tiap detik maupun mili detik jika diinginkan sedemikian rupa.



toilet-automatic-perfume-auto-fresh-matic-aerosol.jpg_350x350

Secara sederhana, jika masing-masing aroma dasar dibuat dalam tabung khusus dengan pengaturan semprotan secara digital, maka penyemprotan masing-masing tangki bisa diatur proporsinya dan perpaduan aroma kesepuluh aroma bisa sesuai dengan setting-an informasi yang datang ke microprocessor yang mengaturnya (wangi apa yang datang, misal: melati atau nasi goreng sekalipun).



Selanjutnya aroma paduan ini disemprotkan melalui blower ke ruangan, sehingga orang-orang akan mencium wangi yang ada di ruangan sama dengan (iklan) TV.

Kapan TV ini berada di pasaran?

Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TITIK TEMU BERBUKA PUASA & PENCIPTAAN LANGIT

Sejenak terpikir setelah membaca Kitab Fadhilah Ramadhan, mengapa kata berbuka = IFTHAR, yang arti asalnya pecah dan orang Inggris menyebutn...