Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 November 2011

Anak-anak Jenius di Dunia (IT)

Marco Calasan (menginjak 10 tahun) dari Skopje, Makedonia telah dijuluki Mozart Komputer oleh pers lokal setelah menjadi Profesional IT dunia termuda ketika ia lulus ujian Sertifikat Administrator Sistem Microsoft . Saat ini ia tengah mempersiapkan untuk Sertifikasi Microsoft yang kelima.


[youtube http://www.youtube.com/watch?v=xMHjf9Z7GKE]

Ini adalah jenis cerita yang menghangatkan hati Anda, tetapi juga membuat Anda merasa sedikit buruk tentang diri Anda. Mengapa? Karena masih dalam single digit, Marco lebih melek komputer daripada banyak dari kita telah bisa. Di sini ia menggambarkan kenangan pertama menggunakan komputer:


Kamis, 27 Agustus 2009

5 Aspek Penting bagi Anak Masa Depan

Beikut ini tulisan yang dikutip dari Tung DW Resources, mungkin bermanfaat. Salam Pendidikan dan Pencerahan


============================



Lima aspek penting yang akan membuat masa depan anda & anak
anda akan lebih baik.

1. Akademis

Cara belajar, baca cepat, mencatat,super memory,
teknik menjawab ujian, cara dapat beasiswa universitas top.

2. Kepribadian
Mengenal bakat, motivasi kuat, tujuan hidup, prinsip –
prinsip hidup yang benar.

3. Relationship

Dekat & berbakti kepada orang tua, supel & akrab dengan
saudara, teman & guru.

4. Challenge of Excellence
Mampu mengendalikan emosi, menghadapi tantangan hidup,
merubah takut jadi kekuatan.

5. Money Management

Mampu mengatur keuangan pribadi dengan baik.

Ramadhan 1430 H ini, tak terasa telah seminggu.


Salam Wrwb

Kamis, 26 Februari 2009

Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi

Dalam tulisan ini dijelaskan bagaimana Orang Yahudi Israel dalam meningkatkan SDMnya, mungkin bisa menjadi motivasi. Namun yang menarik, semua kebiasaan mereka (Yahudi) yang dipaparkan di sini, hampir semuanya berakar dari ajaran Islam. Serasa disambar Gledek tulisan yang saya kutip dari milis Daarut Tauhid ini cukup menggelorakan jiwa. Apa iya? Ayo simak bersama...!



++++++++++++++++++++++

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, "Mengapa Yahudi Pintar?"


Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?


Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.


Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.


Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.


Stephen bertanya, "Apakah ini untuk anak kamu?"


Dia menjawab, "Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius."


Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya.


Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.


Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.


Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.



Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, "Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),"
ungkapnya.

Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.



Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.
Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.


Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.


Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).



Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban.
Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.

Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak.


Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.


Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, "Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !" katanya.



Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.
Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.
Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.

Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya.
Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!

Anda terperanjat?


Itulah kenyataannya.


Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?


Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza.


Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak.


Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran.


Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. "Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?" demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.



Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur'an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka.
Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.

Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya.


Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal.



Benarkah merokok dapat melahirkan generasi "Goblok!" kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini.
"Lihat saja Indonesia," katanya seperti dalam tulisan itu.

Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ 0.7 /bungkus !!!


"Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Ditangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia?


Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?"


=========================


Quote: "Jadilah kamu manusia yang saat kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada waktu kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum". (Mahatma Gandhi)

Minggu, 30 November 2008

Pipis Lewat Ekor ?

Sambil senyum-senyum membaca artikel ini, teringat dengan anak saya yang masih < 2 tahun. Mungkin bisa menambah khazanah, untuk kesehatan keluarga.

+++++++++

BUNDA, kalau girls kayak aku pipisnya kok nggak lewat ekor? Boyboy kayak Davi kan pipisnya lewat ekor? Itu tuh, ekor yang ada di depan. Kelihatan kalau Davi berdiri," ungkap Salsa kepada Ny Vini.

NY Vini (27) yang sedang asyik menonton televisi sontak tercengang mendapat pertanyaan tak terduga itu. Tapi di detik berikut ibu muda ini tak kuasa menawan tawa setelah menyadari maksud Salsa.

Rupanya, Salsa yang baru tiga tahun mengira penis anak laki-laki adalah ekor seperti yang terdapat pada binatang yang biasa dilihat anaknya di beberapa buku bergambar.

Malam sebelumnya, Ny Vini juga menerima pertanyaan tidak biasa dari Davi. Setelah melihat tayangan iklan kondom rasa stroberi, pisang, dan melon di sela acara televisi, Davi yang berusia empat tahun langsung minta dibelikan. Entah dari mana sumbernya, ternyata Davi mendapat informasibahwa  kondom adalah sejenis permen rasa buah-buahan.

"Terus terang, saya sering kaget kalau anak-anak nanya tentang seks. Apalagi kalau perilaku mereka nyerempet masalah seks. Bingung mau dijelaskan seperti apa. Gimana cara menjelaskannya? Lagipula, apa balita sudah perlu dan boleh mendengar penjelasan tentang seks?" tutur Vini setengah bertanya.

Vini mengaku, kondisi akan menjadi dilematis jika mereka tidak menjawab atau tidak memberi pengarahan terkait pertanyaanpertanyaan itu. Anak-anak akan mencari informasi dan pemahaman sendiri tentang seks. "Ini bisa runyam," ujarnya. "Kini berbagai informasi begitu mudah didapat karena media informasi melalui majalah maupun internet sudah bisa dengan gampang diakses siapa pun."

Alva Handayani dan Aam Amiruddin melalui buku Anak Anda Bertanya Seks? (Khazanah Intelektual, Oktober 2008) mengatakan, ada perbedaan pendapat di kalangan para ahli tentang perlunya memberi pengetahuan seks kepada anak sejak dini.

Mereka yang pro menyatakan pendidikan seks diberikan sejak dini  bisa menghindarkan anak dari eksperimen seksual salah, membentengi informasi seksualitas dari sumber yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Namun, kalangan yang kontra menilai seksualitas adalah sesuatu yang natural. Anak-anak bisa belajar secara natural sesuai tingkat kematangan anak. Memberi pendidikan seks sejak dini sama artinya memberi pengetahuan yang belum siap diterima anak-anak.

Tapi dalam kenyataannya, banyak orangtua kewalahan menjawab pertanyaan spontan terkait masalah seksualitas dari balita mereka. Berusaha menghindari menjawab pertanyaan jelas bukan tindakan bijaksana. Tapi menjawabnya juga sangat membingungkan.

"Kalau sudah begini, apa masih perlu kita memperdebatkan penting dan tidaknya pendidikan seks? Kita harus mulai menyadari bahwa pendidikan seks bukanlah suatu yang harus diperdebatkan. Pendidikan seks adalah sebuah kewajiban yang harus diberikan setiap orangtua kepada anak-anaknya," tegas Alva dan Aam Amiruddin. (ricky reynald yulman)

Orang Tua Adalah Guru yang Utama
SIAPA
yang sebaiknya memberikan jawaban jika anak mulai bertanya tentang masalah seksual? Menurut Alva Handayani dan Aam Amiruddin dalam bukunya, Anak Anda Bertanya Seks?, mengatakan yang paling berhak dan wajib menjawab adalah orang tua.

"Jika saat ini Anda telah menetapkan diri untuk memainkan peran dan tanggungjawa paling besar untuk memberikan pendidikan seks pada anak-anak, Anda sudah melakukan langkah awal yang tepat!"

Langkah berikut yang perlu dilakukan adalah menentukan target pendidikan seks, dan mengetahui cara pendekatan anak sesuai usianya.

Jangan lupa tanamkan sikap dan nilai positif tentang seks. Sikapi dengan serius ketika anak mulai penasaran tentang seks.

Langkah penting lain yaitu mengetahui aturan main, mengetahui kemungkinan pertanyaan, dan alternatif jawaban. Kenali pula tingkah laku menyimpang jika itu ada. Konsultasilah dengan ahli jika diperlukan.

Psikolog Dra Ieda Poernomo Sigit mengungkap untuk menjadi sumber utama informasi tentang seks bagi anak-anak, orangtua harus mencari informasi sebanyak mungkin dari berbagai sumber. Termasuk mengikuti perbincangan di tengah masyarakat sehingga mereka bisa memperoleh gambaran kondisi dan situasi.

"Kalau ada kendala lain segera konsultasikan masalahnya dengan para ahli jiwa. Setelah itu boleh kita bisa membuat rambu-rambu yang harus dituruti anak. Tapi jangan sekedar melarang. Harus ada penjelasan yang bisa diterima anak sesuai perkembangan usia mereka," tandas Ieda yang juga penulis buku-buku psikologi ini. (ricky reynald yulman)

Aman Tanpa Detail
HARUS
diakui, bukan hal mudah memberikan penjelasan terkait masalah seksual ketika anak mulai bertanya soal itu. Memberikan jawaban segamblangnya bukan tindakan tepat. Tapi memberikan jawaban yang tak benar juga sesuatu yang keliru.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menjelaskan dengan metode analogi. Tapi, ini pun harus dilakukan secara benar.  Kupaslah analogi yang dipakai dengan logika yang tepat.

Cara lainnya yang jauh lebih mudah adalah menjelaskan apa adanya tanpa menyebutkan detail. Cara ini tak akan menyesatkan, namun tetap aman karena yang dijelaskan hanyalah garis besarnya.

Satu hal yang perlu diingat adalah anak hanya membutuhkan jawaban. Jawaban itulah yang akan membekas hingga anak dewasa.

Karena itulah memberi jawaban yang ngawur atau memberikan aneka mitos menakutkan dengan maksud agar anak berhenti bertanya, bukan sebuah tindakan bijaksana.
Hal penting lainnya, bersikaplah tenang dan wajar. Jangan jadikan proses bertanya sebagai sesuatu yang tabu. (arief permadi)

Manfaat Pendidikan Seks Dini
- Anak belajar menjaga diri dari tindak pelecehan seksual.
- Tidak tergoda melakukan perilaku penyimpangan seksual.
- Anak bisa memahami dengan benar fungsi organ seksual dari sumber informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
- Anak bisa menjaga dengan baik alat-alat reproduksi.
- Mengenali tahap-tahap perkembangan biologis mereka dari anakanak ke remaja, dan remaja ke dewasa.
- Bisa memilih lingkungan pergaulan yang sehat.
Sumber: ricky reynald yulman @ Tribun Jabar

Senin, 24 November 2008

Separation Anxiety

Bagi yang sering ke luar kota (commuter), mungkin artikel ini sangat bermanfaat, terutama bagi yang memiliki anak balita. Salam... 

Separation Anxiety

Jangan Dianggap Sepele


TAWARAN untuk segera mengisi posisi kepala cabang perusahaan ritel di daerah di Kalimantan justru membuat Fauzan murung. Pria 31 tahun, warga Kota Bandung, ini merasa waktunya tak tepat. Sebab ia bersama sang istri sedang membangun kedekatan intensif dengan Shasha, putri pertama mereka yang berumur dua tahun.

DI satu sisi, Fauzan ingin meningkatkan karier. Tapi khawatir kalau terlalu lama tinggal berjauhan, hubungan dengan anaknya yang sedang ia bina pasti terganggu. Ia yakin mengasuh batita mengandalkan single parents tak bisa mencapai hasil optimal.

"Belum lama ada teman curhat, anaknya yang masih empat tahun nggak mau lagi dipeluk seperti dua tahun lalu sebelum ia dapat tugas ke luar kota. Kalau diajak jalan-jalan anaknya cuma mau dekat sama ibunya," ungkap Fauzan.

Dilema seperti itu cukup sering dialami orangtua yang harus berpisah sementara berbulan-bulan hingga tahunan. Baik untuk tugas ke luar kota, melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri, atau ketika melaksanakan ibadah haji.

"Kalau ayahnya pulang dari Jepang dua tahun sekali, Raka mulai cari-cari perhatian. Dia jadi cengeng, malas sekolah, disiplinnya menurun, dan nggak mandiri seperti hari-hari biasanya," ungkap Ny Patricia.

Istri pilot sebuah maskapai penerbangan Jepang ini mengaku sempat kewalahan meski dalam mengasuh Raka yang kini berusia lima tahun, Ny Patricia sering dibantu orangtua dan mertua.

Para ahli jiwa mengungkap, hingga usia anak tiga tahun faktor kedekatan orangtua dan anak menjadi begitu penting. Secara psikologis batita merasa begitu kehilangan ditinggal orangtuanya meski cuma sementara.

Kebanyakan batita belum bisa memahami dengan baik alasan kepergian orangtua. Pada beberapa kasus rasa kehilangan ditinggalkan orangtua bahkan bisa mengakibatkan trauma yang dampaknya akan dirasakan si kecil dalam waktu yang lama.

Dr Ika Widyawati SpKJ dari Bagian Psikiatri FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, mengungkap berpisah dari orangtua (separation anxiety) merupakan satu dari sembilan bentuk ketakutan yang wajar terjadi pada anak.

Bentuk ketakutan lain pada anak-anak yaitu, takut masuk sekolah, takut orang asing, takut dokter, takut hantu, takut gelap, takut berenang, takut serangga, dan takut anjing.

"Masing-masing rasa takut berbeda penyebab dan berbeda pula cara penangannya. Takut berpisah terutama terjadi pada anak batita. Sebab pada masa itu dalam benak si kecil, orangtua merupakan figur pelindung," jelas Ika Widyawati.

Orang tua perlu sabar menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti anak, bahwa pada waktu-waktu tertentu orangtua harus berpisah. Misalnya untuk bekerja atau pergi ke luar rumah dalam waktu  relatif lama. Ada baiknya orangtua menyisipkan pemahaman tentang konsep waktu kepada anak. (ricky reynald yulman)

Kendala Perbedaan Pola Asuh

SEBAGIAN orangtua yang dengan berbagai alasan terpaksa harus berpisah dengan anak-anak mereka, biasanya mempercayakan pengasuhan si kecil kepada orang lain. Tingkatannya mulai dari kakek-nenek, saudara kandung orangtua, kerabat dekat, hingga membayar pengasuh anak profesional.

Namun perlu dipahami, tak selamanya pola asuh yang dibuat orangtua bisa dilakukan figur pengganti tadi. Contoh kecil dialami Ny Wanda (26) dan suaminya yang ingin mengajarkan Wawa (3), anak pertama mereka, untuk berusaha dan bersabar jika menginginkan sesuatu.

"Ternyata waktu aku dan suami lagi di kantor, neneknya selalu menuruti apa yang Wawa mau. Mau eskrim, permen, mi instan, layangan, kembang api, dan lain-lain langsung dibeliin. Neneknya bilang buat nyenangin hati Wawa. Ya, aku nggak bisa apa-apa," sesal Ny Wanda.

Alma Nadhira, psikolog RS Fatmawati, Jakarta, mengungkap cukup banyak terjadi anak justru lebih dekat kepada figur pengganti ketimbang orangtuanya sendiri. "Dengan kata lain, kedekatan anak berpindah pada orang yang memberinya perhatian dan kasih sayang selama anak ditinggalkan orangtuanya," jelasnya.

Upaya mengatasi kendala perbedaan pola asuh sebenarnya bisa diminimalisasi lewat kerjasama yang baik antara orangtua anak dengan pengasuhnya. Melalui situs tabloid-nakita.com Alma memberi catatan bahwa figur pengganti harus berperan sebagai jembatan untuk menjaga hubungan baik anak dan orangtua.

"Bukan malah menjauhkan apalagi menguasai anak sepenuhnya. Setidaknya, bolehkan anak menghubungi orangtuanya dengan alat komunikasi sambil memperlihatkan foto-foto, atau hal lainnya untuk menenangkan perasaan si anak. Pendek kata, figur pengganti ini harus bersikap kooperatif," tegas Alma Nadhira.

Jangan Lakukan Mendadak

UPAYA meminimalisasi kesenjangan pola asuh anak akibat perpisahan sementara dengan orangtua, tak cuma tertuju pada anak. Orangtua dan orang-orang yang akan menjadi figur pengganti juga perlu menyiapkan beberapa hal penting. Di antaranya :

  • Sedapat mungkin tidak melakukan perpisahan secara mendadak. Bila perlu, kondisikan sejak tiga bulan sebelumnya. Misalnya mendekatkan anak dengan figur pengganti.

  • Jelaskan dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti anakanak, alasan orangtua meninggalkan mereka. Terangkan juga tentang figur pengganti yang akan mendampingi anak.

  • Memberi akses seluas-luasnya kepada anak untuk tetap bisa berkomunikasi dengan orangtua. Melalui telepon, internet, atau melalui media lainnya.

  • Bila memungkinkan di waktu libur sekolah ajak anak-anak pergi ke tempat tinggal sementara orangtua.

  • Selalu membesarkan hati anak melalui perhatian dan mendengar  kegalauan hatinya.

  • Bila ternyata anak mengalami tekanan berat segeralah konsultasi dengan psikolog.


Sumber: Tribun Jabar by Ricky Reynald Yulman

Gara-Gara Ntar

Rahasia Kuno Nusantara: Kenapa Kita Ngukur Waktu Pake Kedipan Mata? Pernah gak sih lo mikir, dari mana asalnya kata "sebentar" ata...