Tampilkan postingan dengan label Neo Technologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Neo Technologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2016

Hijrah, Bergerak dan Berpindah

Umumnya setiap perayaan tahun baru Islam selalu ada kata hijrah yang diartikan sebagai berpindah. Kata ini selalu dipakai untuk kita yang ingin berubah, yang sering didengar dengan istilah berubah dari yang lama menjadi baru, dalam artian menjadi lebih baik.

Cukup lama didengar ungkapan-ungkapan ini diserukan oleh para mubaligh, penceramah dan para pendakwah. Sampai akhirnya kusimpulkan, untuk hijrah harus bergerak dan berpindah sebagai action.

Dalam tataran islam, orang yang lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung (hadits). Seandainya dia sama saja dengan hari kemarin, sudah termasuk merugi, apalagi sampai lebih buruk dari kemarin, sudah termasuk celaka (hadits).

Namun penulis tidak membahas jauh ke dalam kajian keislaman, apalagi ilmu hadits yang bukan bidang garapan penulis, melainkan bidang sains.

Ditinjau dari sisi mikroskopis, elektron selalu berputar dan berpindah posisi dari waktu ke waktu. Tidak mungkin menentukan posisi elektron secara tepat, pada waktu yang tepat pula. Inilah yang dikenal dengan ketidakpastian Heisenberg dalam fisika kuantum. Elektron selalu berpindah-pindah untuk bisa menghasilkan arus listrik (yakni aliran muatan negatif). Elektron juga harus sepaham untuk dipakai bersama dalam ikatan-ikatan dalam Ilmu Kimia.

Ikatan inilah yang kita lihat menjadi bahan, cairan, padat maupun gas dalam kehidupan sehari-hari. Jika ini tidak terpenuhi maka elektron tidaklah menjadi sebegitu berguna, bahkan tatanan dunia materi yang ada akan segera runtuh.

Di dalam tubuh kita ada aliran darah (baca pindah) yang dipompa oleh jantung setiap saat, begitu juga dengan udara yang dipompa oleh paru-paru. Jika saja tidak ada hijrah darah dan udara, maka jasmani ini tidak lagi berjalan secara normalnya (sakit) yang niscaya akan mati. Bahkan syaraf-syaraf yang berada di otak juga harus berubah setiap ada interaksi baru dari informasi yang diperoleh dari mata, telinga dan indera lainnya.

Mata dapat melihat karena adanya foton (partikel cahaya) yang masuk (hijrah) ke dalam mata kita, yang selanjutnya diubah dalam bentuk sinyal listrik ke dalam otak, sehingga terbentuklah simpul-simpul syaraf baru di dalamnya. Begitu juga bunyi yang kita dengar merupakan gelombang longitudinal yang berjalan (hijarah) di udara menuju telinga. Selanjutnya gendang telinga bergetar dan menghasilkan sinyal listrik yang diteruskan pula ke dalam otak manusia. Indra lainpun tak ketinggalan sebagaimana kulit yang mampu meneruskan sinyal-sinyal ke otak, termasuk pula lidah dan hidung yang mempu membedakan rasa dan bau sebagai interaksi zat2 kimia yang diteruskan ke otak manusia.

Akhirnya dalam sebuah sistem tubuh sekalipun, harus ada hijrah berterusan untuk sinambung kehidupan, meskipun pada akhirnya ada batasan waktu yang harus dipatuhi. Selesainya waktu, maka kitapun harus berpindah ke alam lain. Ini tidak berbeda dengan berpindahnya kita dari alam ruh ke dalam rahim, selanjutnya dari dalam rahim dengan tenggat waktunya harus pindah ke alam dunia.

Apa jadinya jika manusia-manusia sebelumnya (kakek buyut) tidak "berpindah/hijrah" dari dunia ini? Tentu bumi sudah dipenuhi oleh manusia dari dulu sampai sekarang. Begitu juga bayi yang dalam rahim yang tak berpindah ke dunia, akan mengalami nasib yang buruk pula. Bahkan sebaliknya, jika sperma tidak berpindah menuju sel telur di tempat yang tepat, maka tentulah tidak terjadi regenerasi manusia saat ini.

Dalam tatanan yang lebih luas, harus terjadi perpindahan air (siklus air), berupa menguap menjadi awan, turun sebagai hujan, mengalir di sungai-sungai dan seterusnya. Di sisi sosial juga harus ada perpindahan, agar roda ekonomi berjalan, pemerintahan berjalan lancar sesuai regulasinya.

Akhirnya sampai pada tataan alam semesta yang begitu luas, perpindahan harus terus berlangsung sebagaimana peredaran bumi, matahari, bintang, galaksi dll. Apalah jadinya jika matahari tetap berada di atas kepala kita di saat siang hari? Tentunya kehidupan di dunia ini pasti sudah lama punah.

Alam semesta inipun harus bergerak dari awal kejadiannya (l.k 15-14 Milyar tahun lalu) untuk mencapai kondisi sempurna saat ini. Para ilmuan juga telah menjelaskan mengembangnya alam semesta, yang akhirnya suatu saat juga akan berhijrah kembali menciut menuju titik nol (kiamat semesta).

Mudah-mudahan, di "bertambahnya" angka tahun hijrah yang baru ini penulis terdorong/termotivasi untuk berhijrah ke arah "vektor" yang lebih baik.

Amiiin.

Selasa, 19 Juni 2012

Kamuflase Tampilan Kenderaan, Hampir Tiba...

Ada yang ingat mobil Aston Martin V12 milik James Bond yang bisa kamuflase, sehingga seolah hilang karena tersamar dengan lingkungan sekitar? Teknologi ini sedang dikembangkan oleh para ilmuwan di BAE System, Swedia. Namun, untuk kebutuhan kamuflase kendaraan-kendaraan militer. Logam heksagonal yang bisa menyamarkan semua benda/BAE SYSTEM Nantinya, perangkat ini akan dapat melindungi tank dari serangan roket pencari panas yang kerap memburunya.


Proyek riset yang diberi nama Adaptiv ini akan diuji coba dalam dua tahun mendatang. Jubah tembus pandang militer ini terdiri atas kepingan logam berbentuk heksagonal sebesar telapak tangan orang dewasa. Kepingan logam ini dapat dipanaskan atau didinginkan dengan cepat untuk menyamarkan bangunan, kapal, atau helikopter yang terbang rendah. Untuk menyelubungi sebuah tank kecil, diperlukan sekitar 1.000 kepingan logam tersebut.


Perangkat ini dilengkapi dengan pemindai untuk "membaca" lingkungan sekitar. Kemudian, pola-pola hasil pemindaian direproduksi pada panel logam berbentuk heksagonal yang berada di lambung tank (atau obyek lainnya). Selanjutnya, citra inframerah ditampilkan sehingga memungkinkan tank menyatu dengan lingkungan sekitarnya dan membuat musuh melihatnya sebagai sebuah mobil atau bahkan seekor sapi.


Menurut Peter Sjolund, pimpinan riset, teknologi ini bekerja layaknya layar televisi termal. Selain membawa koleksi gambar yang sudah tersimpan, perangkat itu juga bisa mengambil gambar yang sesuai dengan lingkungan sekitarnya apabila diperlukan. Pengembangan lebih lanjut bahkan bisa makin canggih lagi.


(Kompas)

Pembangkit Listrik Tenaga Kunang-kunang (PLTK), Mau?

Kita telah belajar dari alam selama berabad-abad. Berbagai penemuan pun mayoritas terinspirasi dari segala ciptaan Tuhan yang ada. Manusia bisa membuat pesawat setelah mengamati burung, membuat kendaraan militer amphibi dengan belajar dari kodok, dan banyak lagi.


 Lampu kunang-kunang/gizmodo.com



Sekarang, kunang-kunang memberi ilham kepada para ilmuwan untuk membuat lampu yang tidak membutuhkan daya listrik sehingga lebih hemat energi. Ya, para peneliti di Universitas Syracuse, New York, berhasil menciptakan sumber cahaya buatan dari gabungan unsur biologis dan nonbiologis. Material biologis dalam hal ini adalah enzim milik serangga kunang-kunang.

Seperti kita ketahui, kunang-kunang adalah salah satu hewan bioluminescence terbaik yang dapat kita temukan di alam bebas. Cahaya yang mereka hasilkan adalah reaksi dari bercampurnya senyawa kimia luciferin dan enzim luciferase.

Nah, apa yang dilakukan oleh peneliti ini adalah menambahkan enzim luficerase kedalam permukaan sekumpulan nanorod (objek berukuran nano) yang terbuat dari material semikonduktor cadmium sulfide dan cadmiun seleneide. Nanorod-nanorod ini akan menyala ketika mereka terkena luciferin yang dalam percobaan ini berfungsi layaknya bahan bakar. Proses ini dinamakan dengan Bioluminescence Resonance Energy Transfer (BRET).

Dan lampu buatan ini juga mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan cahaya alaminya. Menurut peneliti, dengan memanipulasi ukuran nanorod, maka cahaya yang ditimbulkan juga bisa menjadi beraneka warna, tidak hanya satu warna seperti yang dapat dihasilkan oleh kunang-kunang.

Walaupun mereka belum menemukan bentuk pengaplikasian yang tepat untuk kebutuhan dunia nyata, namun mereka mengatakan lampu ini bisa saja digunakan untuk pengganti sumber cahaya lampu LED di masa yang akan datang.


Sumber: idbid.com

Sabtu, 19 Mei 2012

Kota Anti-Tsunami Jepang

Setelah gempa bermagnitud 9 mengguncang Jepang pada 11 Maret 2012 lalu, Jepang belajar bahwa pertahanan yang telah diupayakan seperti dinding laut ternyata tak cukup.


Keiichiro Sako dari Sako Architechts di Tokyo merancang sebuah kawasan tepi pantai yang anti tsunami. Kawasan ini bisa dikatakan sebuah pulau buatan yang letaknya lebih tinggi dari daerah sekitarnya, dinamai "Sky Village" atau Kampung Langit.




Rencananya, rancangan kawasan tersebut akan diwujudkan di kawasan Tohoku, timur laut Jepang, yang tahun 2011 lalu dihancurkan gempa. Meskipun terdengar seperti mimpi, Sako yakin rancangannya bisa diwujudkan.

Gara-Gara Ntar

Rahasia Kuno Nusantara: Kenapa Kita Ngukur Waktu Pake Kedipan Mata? Pernah gak sih lo mikir, dari mana asalnya kata "sebentar" ata...