Jumat, 01 September 2017

TAK ADA DINGIN, JAHAT dan GELAP

Kemarin berdiskusi dengan teman-teman, awalnya hanya bincang-bincang ringan.
Entah mengapa berlanjut pada pertanyaan, "saat terjadi tsunami Aceh mengapa ikan-ikan yang ada di danau kecil di atas pulau Samosir (di danau Toba) Sumatera pada muncul kepermukaan?"

Sederhananya, mengapa ikan pada keluar dari sarangnya, tentu karena ada yang mengganggu habitat mereka, dalam hal ini bisa saja suhu (panas) air danau tersebut. Perubahan panas air danau dapat dipahami karena perubahan suhu pada dasar danau. Ini dapat terjadi karena magma dari gunung-gunung di seluruh dunia terhubung di bawah kerak bumi. Jika tsunami aceh mengakibatkan terjandinya getaran ataupun perubahan panas di dasar danau, otomatis 'para' ikan akan berusaha mencari tempat yang lebih aman, yakni ke permukaan danau.


Dari pertanyaan dan diskusi ini akhirnya muncul pertanyaan masalah gelap dan dingin.


Qur'anophysics



Dalam konsep fisika sebenarnya tidak ada istilah konsep (namanya) dingin, yang ada hanya panas. Terus dingin dalam fisika merupakan kondisi dimana sesuatu kekurangan panas atau kalor. Kita menyebutnya dingin karena kurangnya energi dalam bentuk kalor pada benda/materi tersebut.


Benda-benda yang kita sebut (dengan istilah) dingin sebenarnya menunjukkan kurangnya kalor padanya. Jika kita lihat termometer Celcius, maka yang ada hanya angka 0 sampai 100. Saat dicelupkan di air mendidih pastilah skala menunjukkan 100 oC. Sebaliknya saat kita dekatkan ke es batu, terlihat skala termometer menuju angka nol.


[caption id="" align="aligncenter" width="199"] Termometer Fahrenheit dan Celcius[/caption]

Kita tahu, bahwa angka-angka yang ditunjukkan termometer tersebut adalah suhu, yakni derajat panasnya suatu benda. Konsep suhu/termometer ini telah kita terima sejak mempelajari IPA di tingkat SD. Suhu disebutkan derajat panas suatu benda, masih ingatkan? Bukan derajat panas atau dingin suatu benda!


Kembali ke diskusi bersama teman...
Kawan-kawan yang bukan orang (guru berbasis) MIPA masih berpandangan adanya konsep dingin, padahal ini merupakan efek dari kebiasaan sehari-hari. Sering kita menyebut dalam kulkas itu dingin, es itu dingin, malam hari dingin. Ini merupakan hal yang wajar, karena kita di tingkat SD juga tidak dipahamkan konsep yang benar terhadap suatu gejala alam. Akhirnya seperti itu turun temurun di tingkat akademis.


Apakah Es Tidak Dingin?


Benar kita mengatakan bahwa es itu dingin, istilah sehari-hari!
Dinginnya es merupakan interaksi kulit tubuh kita terhadap benda bernama es tersebut. Saat tubuh kita merasakan benda dengan suhu di bawah rata-rata suhu tubuh manusia (lebih kurang 39 oC), maka kita menyebutnya dingin, di bawahnya sedikit kita sebut mulai hangat dan seterusnya kita menyebutnya panas saat jauh di atas suhu tubuh kita. Tuhan menjadikan standar tubuh kita sebagai acuan panas/dingin terhadap interaksi di luar tubuh manusia.


Saat es diletakkan di tempat terbuka (ruangan), maka perlahan es akan mencair.  Sebelum es mencair, udara di ruangan berinteraksi dengan es, karena suhu udara lebih tinggi dari es berarti memiliki kalor (panas) yang lebih terhadap es. Kelebihan panas ini diberikan kepada es, sampai akhirnya bisa mencairkan sebagian kecil permukaan es tersebut. Akhirnya seluruh es mencair jika panas dari udara dalam ruangan mencukupi.


Tapi, jika suhu ruangan atau lingkungan tidak tinggi, maka panas dari ruangan/lingkungan tersebut tidak mencukupi untuk mencairkan es. Inilah yang terjadi di daerah yang 'sangat dingin' seperti di kutub, sehingga berbulan-bulan daerah tersebut tertutup salju/es.


Tak Ada Yang Namanya Dingin, Tak Ada Pula Kejahatan?


Dalam kehidupan sosial, kita menyebut seseorang sebagai penjahat, bajingan dan sebagainya. Namun kita juga menyebut sebagian kecil orang sebagai dermawan, alim dan lainnya. Mari kita simak video singkat berikut:


https://www.youtube.com/watch?v=YxW_bEKfJ2w

Analogi dengan panas dan dingin, dijelaskan bahwa dalam fisika konsep dingin itu tidak ada, yang ada hanya konsep panas atau kalor.


Apakah Tuhan menciptakan semuanya di alam semesta ini? Dalam pikiran kita tentu ya, Tuhan maha pencipta segalanya. Pertanyaannya muncul, apakah Tuhan menciptakan segalanya, termasuk menciptakan KEJAHATAN? Kitapun mulai bingung menjawabnya. Kalau Tuhan menciptakan kejahatan, berarti Tuhan itu jahat!


Nah, mari kita kembali pada konsep panas, sebagaimana disebutkan di atas, bahwa tidak ada yang namanya dingin (konsep fisika). Dengan analogi ini, sebenarnya Tuhan tidak pernah menciptakan kejahatan! Jika dingin kita nyatakan sebagai kurangnya panas pada suatu benda, maka kejahatan merupakan kurangnya kebaikan pada manusia.


Orang yang kita sebut jahat, pada dasarnya karena kebaikannya minim, sebaliknya orang baik (seperti dermawan,  alim, pemurah, jujur dsb) memiliki jumlah kebaikan yang melimpah.


Gelap, Apakah Ada?


Sebenarnya, apakah konsep gelap ada dalam Fisika?
Ketika malam hari, sebuah ruangan tanpa lentera/lampu terlihat gelap (sebutan sehari-hari). Saat kita menghidupkan lampu, maka seisi ruangan mulai tampak. Jelas tidaknya benda-benda dalam ruangan tersebut tergantun kuatnya intensitas cahaya dari lampu/lentera yang kita miliki.


Jadi, gelap pada dasarnya adalah kondisi dimana tidak adanya cahaya yang memasuki suatu tempat atau ruangan. Kita bisa memperkecil jumlah cahaya yang memasuki suatu tempat dengan mengatur sumbu lampu misalnya. Makin besar sumbunya, makin terang terlihat (intensitas makin besar - istilah fisika). Saat bahan bakar habis, maka lampu mulai redup, ruanganpun mulai tampak remang-remang. Ini menandakan jumlah cahaya yang ada di ruangan tersebut semakin kurang.


Dalam Fisika modern partikel cahaya disebut foton. Foton inilah yang mengisi ruangan yang ada, termasuk langit yang kita lihat sehari-hari. Saat siang terlihat terang benderang dan saat malam terlihat 'gelap' gulita. Malam yang gelap ini dapat dipahami karena tidak sampainya (kurangnya jumlah) foton/partikel cahaya ke tempat tersebut. Sebaliknya sisi bumi yang kita sebut siang dipenuhi oleh foton yang berasal dari matahari.


Dalam al Qur'an banyak menyebutkan kata malam yang identik dengan gelap, namun malam tidak sama dengan gelap. Lihat saja di perkotaan, malam belum tentu gelap. Karena banyaknya lampu (sumber foton), maka kawasan perkotaan terlihat terang karena telah diisi foton.


559326_420275351321210_100000162473224_1818807_2050221565_n


Jika dilihat pada ayat tersebut, cahaya merupakan sesuatu yang diberikan, berarti ada sumbernya. Sementara gelap gulita merupakan kondisi (karena) tidak ada cahaya yang diberikan.

Berikut ini gambar level tembusnya cahaya di dalam air, sebagaimana disebutkan pula dalam al Qur'an,



Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (Q.S An-Nuur : 40)



Pada ayat tersebut sangat jelas bahwa Allah memberikan cahaya, dengan kata lain dari sebuah sumber ke tempat lain.

Untuk gelapnya suatu tempat, levelnya ditentukan berdasarkan level penembusan cahaya di dalam air. Gambar di atas menunjukkan spektrum cahaya yang tidak menembus air pada kedalaman tertentu. Dari sini, lautan-lautan yang dalam pastilah merupakan tempat yang paling gelap sebagaimana diisyaratkan dalam al Qur'an. Pada kedalaman lebih 200 meter, semua spektrum tak terlihat. Jadi, sangat jelas bahwa sesuatu tempat dikatakan gelap karena cahaya tidak memasukinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

QUR'ANOFISIKA: Penggalian Ayat Inspirasi Dari Sederhana Sampai Kompleks

QUR'ANOFISIKA: Penggalian Ayat Inspirasi Dari Sederhana Sampai Kompleks oleh: Pandapotan Harahap* Sudah lama penulis ingin menuliskan Qu...