Sabtu, 24 Januari 2009

Memandang Gerhana Matahari, Amankah?


Sebuah fenomena alam yang termasuk langka, yakni gerhana matahari cincin, akan melintas tepat di atas Pulau Sumatera dan Kalimantan pada Senin petang, 26 Januari 2009. Meski pemandangan pada saat gerhana amat indah karena membentuk cincin cahaya, jangan melihatnya secara langsung dengan mata telanjang.


Meski matahari meredup, cahayanya tetap amat berbahaya bagi mata dan berisiko menyebabkan kebutaan, kata Tersia Marsiano, Ketua Himpunan Astronomi Amatir Jakarta. "Lensa mata kita mirip lensa cembung pada lup atau kaca pembesar," katanya kemarin. "Retina kita digambarkan sebagai layar atau kertas. Bila lup diarahkan ke matahari, kertas yang ada di bawahnya akan terbakar."


Filter matahari yang dibuat dari negatif film yang sudah terbakar dan dicuci adalah alat paling simpel untuk menyaksikan gerhana dengan aman. "Jenis negatif film yang digunakan sebaiknya film black and white, tapi film berwarna juga bisa dipakai," katanya.


Para pengamat bintang juga bisa membuat teleskop lubang jarum (pinhole) untuk melihat gerhana. Cara pembuatan teleskop ini memang lebih rumit dibanding kacamata filter matahari dan sedikit lebih mahal karena memerlukan tripod untuk menahan teleskop. Gambar yang dihasilkan juga kecil dan agak redup, tapi bisa disaksikan bersama-sama dalam sebuah kelompok kecil.


Pada peristiwa gerhana matahari cincin Senin mendatang, komunitas astronomi di Indonesia akan melakukan pengamatan di berbagai lokasi. Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) akan melakukan pengamatan di dua lokasi, yaitu di Anyer dan SMA 89 Jakarta. Pada pengamatan di SMA 89, HAAJ bekerja sama dengan Sirius, klub astronomi sekolah itu. Kegiatan ini melibatkan beberapa sekolah di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi yang tergabung dalam FOSCA (Forum of Scientist Teenager).


Di Anyer, HAAJ akan melakukan pengamatan di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Anyer bersama UNAWE (Universe Awareness). Mereka juga akan melakukan penyuluhan di sekolah itu tentang cara aman mengamati gerhana. "Kegiatan di sekolah itu adalah salah satu rangkaian kegiatan peringatan Tahun Astronomi Internasional 2009," kata Tersia. "Menurut rencana, Observatorium Bosscha dan Institut Teknologi Bandung akan menyiarkan pengamatan di Lampung, Anyer, dan kota lainnya melalui situs http://bosscha.itb.ac.id."



1. Filter Matahari

Alat dan bahan:

  • Pola kacamata dan kertas karton

  • Negatif film yang dipotong sesuai dengan pola kacamata dua lembar

  • Lem


1. Potong pola kacamata sesuai dengan gambar.

2. Lubangi bagian mata atau sesuai dengan mata kita.

3. Tempel kedua lembar negatif film yang telah dipotong pada bagian belakang pola 1.

4. Tempelkan pola 2 di belakang pola 1 sehingga menjepit negatif film.

5. Filter matahari siap digunakan.

  • Pola 1

  • Pola 2

  • Lubang mata


2. Teleskop lubang jarum (teleskop pinhole)

  • Pipa paralon 1 inci sepanjang 0,5 sampai 1 meter

  • Kertas kalkir

  • Karton hitam

  • Jarum

  • Penggaris


1. Potong pipa paralon.

2. Tutup salah satu ujung paralon dengan karton hitam dan buat lubang dengan ujung jarum tepat di tengahnya.

3. Tutup ujung yang lain dengan kertas kalkir.

4. Arahkan bagian yang tertutup karton hitam ke arah matahari.

5. Berkas cahaya matahari akan terproyeksikan di kertas kalkir.

Sumber: Koran Tempo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TITIK TEMU BERBUKA PUASA & PENCIPTAAN LANGIT

Sejenak terpikir setelah membaca Kitab Fadhilah Ramadhan, mengapa kata berbuka = IFTHAR, yang arti asalnya pecah dan orang Inggris menyebutn...