Minggu, 30 November 2008

TENAGA PENDIDIKAN & WIRAUSAHA DI ABAD INFORMASI

Para rekan sekalian, terutama guru yg non PNS. Menambah penghasilan karena kebutuhan keluarga merupakan amal ibadah bagi kita semua. Nabi SAW sendiri dalam haditsnya mengungkapkan, bahwa berjuang untuk memenuhi kehidupan keluarga termasuk jihad di jalannya.

Abad Informasi (setelah masuk millennium III) mengubah beragam paradigma yang ada, tidak hanya metode dan teknologi pengajaran tetapi ikut di dalamnya gaya hidup, pola pikir bahkan sampai bidang ekonomi (khususnya kerja).

Sebelum perkembangan komputer dan internet, kita selalu berpikir pola kerja yang linear. Pola ini bercirikan: 1) kita butuh kerja tetap, 2) besar penghasilan setara dengan kerja keras, 3) kerja sebanding dengan waktu, 4) dibutuhkan modal besar untuk memulai usaha, 5) tempat/posisi/lokasi sangat mempengaruhi besar penghasilan.

Pola berpikir kerja yang linear ini tidak lagi bisa dianggap benar sepenuhnya setelah internet & telekomunikasi berkembang. Sebagian motivator wirausaha telah memberikan jawaban, meskipun kita masih membutuhkan pola lama, tetapi paradigma akan bergeser perlahan tapi pasti.

Berikut pergeseran itu:


  1. Tetap bekerja/berkarya lebih baik ketimbang pekerjaan tetap. Dalam arti kita membutuhkan pikiran, inovasi dan kreasi untuk menghadapi tantangan yang ada

  2. Kerja keras tidak setara dengan besar penghasilan. Kita butuh kerja cerdas. Contoh: seorang programmer komputer bisa menghasilkan gaji setahun PNS dengan kerja cerdasnya cuma 1 minggu. Bagi yang bukan programmer? Banyak jalan bisa ditempuh, Cth: pernahkah kita pikirkan, kenapa Kartu Perdana yg biasa cuma Rp. 15.000 bisa dijual 1,5 juta?

  3. Kerja tidak sebanding (linear) dengan waktu. Contoh: Pola lama menunjukkan, jika ngajar di 1 sekolah (20 jam) mendapatkan penghasilan 400rb, maka untuk 800rb mengajar menjadi 40 jam, di abad informasi tidak selalu berlaku lagi linearitas tsb.

  4. Untuk usaha tidak perlu modal yang besar. Modal utama yang paling penting adalah menguasai informasi dan me-manage-nya. Jika kita menguasai informasi, kita menguasai dunia, itulah prinsipnya di era informasi. Sebagian netter, blogger dan technopreneur mengandalkan kreativitas dan inovasi dalam me-manage informasi. Produk yang paling laku di abad informasi adalah informasi beserta turunannya.

  5. Usaha di abad informasi tidak butuh ruang dan lokasi khusus. Kita bisa membuat usaha di kamar kost, kamar tidur, rumah, bahkan garasi bila perlu (seperti pemilik www.google.com) di awalnya. Yang penting adalah jaringan dan keterhubungan kita dengan sumber informasi itu ada, always connect to the internet.


Jika pola baru ini telah dimiliki, satu yang penting adalah jaga kepercayaan. Jangan sesekali kecewakan customer anda. Sekali lancang ke Ujian, seumur hidup Orang tak percaya. Begitulah kata pepatah.

Insya Allah nanti dilanjut lagi.
Salam buat teman2 semua, maaf jika terganggu dengan postingan ini.


Quote to day: Berubahlah, atau tertinggal...

2 komentar:

  1. kalau semua guru swasta dianjurkan menutupi kekurangannya untuk mencapai kehidupan yang layak dengan cara di luar kompetensinya,
    wah ini anjuran kontroversi
    terus kapan guru swasta mau profesional, bermartabat dan sejahtera

    BalasHapus
  2. Yth Masedlolur, ini adalah salah satu alternatif. Sembari pemerintah memperjuangkan nasib para guru dan sistem pendidikannya, tidak salah meningkatkan penghasilan dengan memanfaatkan Telematika.

    Adalah tidak baik terus mengeluh, demonstrasi dan sejenisnya. Kekurangan kita para guru umumnya kurang kreatif dan inovatif. Dari pengalaman saya, sebagian besar guru yg terjun di Telematika adalah orang2 kreatif.

    Terus, banyak di antara kita yang menutupi kekurangan "di dapur" dengan menjadi Tkg Ojek, bahkan menjadi Pemulung. Apakah ini tidak berseberangan denan kompetensinya. Yakinlah, banyak cara meningkatkan kesejahteraan guru, salah satunya adalah wirausaha online.

    Lagipula, ke depan (menurut Sayling Wen, bukunya Masa Dean Media) mayoritas pendidikan pengajaran akan berbasis telematika. Kalo guru gak berubah, lihat aja hasilnya?

    BalasHapus

TITIK TEMU BERBUKA PUASA & PENCIPTAAN LANGIT

Sejenak terpikir setelah membaca Kitab Fadhilah Ramadhan, mengapa kata berbuka = IFTHAR, yang arti asalnya pecah dan orang Inggris menyebutn...