Selasa, 08 Desember 2009

Guru dan Tingkatan Kualitasnya


Sangat sedikit guru yang mau menulis seperti Bu Rani Pardini, tulisan yang menggugah ini mudah-mudahan membuat semangat kembali tenaga kependidikan. Aamiin.




Salam Wrwb

SUATU hari seorang guru dipanggil menghadap kepala sekolah untuk berbincang tentang perkembangan siswanya. Perlu diketahui, usia kepala sekolah ini lebih muda daripada guru tersebut. Ketika ditanya sejauh mana perkembangan anak-anak didiknya, ia menjawab dengan santai, "Sejauh ini perkembangan siswa biasa-biasa saja pak, tidak mengalami kemajuan dan juga tidak mengalami kemunduran, semuanya berjalan apa adanya."


Mendengar jawaban itu sang kepala sekolah kembali bertanya, "Sudah berapa tahun bapak mengajar di sekolah ini?"


"Sudah 15 tahun saya mengajar di sekolah ini pak, selama itu pula saya tetap setia menjadi guru."


Mungkin kita bisa mengatakan betapa tinggi loyalitas sang guru tersebut, tapi dari sisi kualitas dan produktivitas, sesungguhnya ia baru bekerja satu tahun, yang 14 tahun lagi hanya mengulang yang satu tahun tersebut. Artinya, dia bekerja 15 sebagai guru tanpa efek, tanpa pengaruh dan tanpa membawa perubahan di sekolahnya.


Bekerja dengan berprofesi sebagai guru merupakan bagian dari aktivitas kehidupan yang tidak saja menghasilkan nafkah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga untuk menikmati hidup, membangun relasi dengan guru, staf,  karyawan sekolah, dan masyarakat agar dinamika kehidupan menjadi lebih berwarna, serta agar kualitas pengembangan diri meningkat ke arah yang lebih baik.


Jika dilihat perspektif kualitas dan produktivitas sebagai seorang guru, kita akan melihat beberapa kriteria sekaligus level seorang guru dalam menjalankan aktivitas sehari-hari di sekolah. Pertama, kita akan melihat sosok seorang guru yang menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru occupational. Profil guru seperti ini ditampilkan oleh mereka yang memaknai profesi guru hanya untuk memperoleh sejumlah uang dan gaji berkala yang cukup.


Baginya, yang penting gaji berkala tiap bulan lancar, sudah cukup. Metode pembelajarannya tidak mengalami perkembangan kemajuan dari tahun ke tahun, dia enggan untuk mencoba metode-metode baru karena dianggap mempersulit dirinya dalam beraktivitas. Mereka yang berada pada level ini, menjalankan profesi sebagai guru hanya sebagai rutinitas tanpa diimbangi dengan kreativitas, bahkan ia tidak peduli dengan perkembangan siswa-siswanya di kelas.


Baginya, menyampaikan materi di kelas sudah sukup, siswa mau mengerti atau tidak, tak jadi masalah, yang penting materi tersampaikan. Guru sperti ini cocok dikatakan sebagai guru yesterday-today and tomorrow podo wae.


Lain halnya dengan guru-guru yang menjalankan aktivitas kerjanya di sekolah sebagai guru profesional. Mereka mengajar tidak hanya menunaikan kewajiban dan rutinitas harian, melainkan juga berpikir bagaimana agar apa yang dilakukannya setiap hari meningkatkan kualitas dirinya dan mengembangkan profesinya.


Guru yang masuk dalam tingkatan ini terus menerus menempa keahliannya dan memiliki prinsip bahwa hari kinerja hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Baginya tidak ada waktu yang kosong, bahkan ketika tugas mengajarnya selesai, dia bersedia meluangkan waktunya untuk melayani siswanya yang membutuhkan bantuan dan bimbingannya, ia sangat peduli terhadap perkembangan kemajuan belajar siswanya di kelas.


Profil guru seperti ini menjadi dambaan dan teladan bagi sekolah. Berkat loyalitas, dedikasi dan prestasinya yang tinggi, ia menjadi sosok guru yang keberadaannya di sekolah membawa kegembiraan dan kebahagiaan bagi warga sekolah.


Panggilan profesinya sebagai guru bukan hanya untuk sekedar mendapatkan gaji berkala dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, melainkan berusaha secara terus menerus meningkatkan kompetensi diri, bahkan hingga di luar disiplin ilmunya.


Bagi sebagian guru, mungkin sudah merasa cukup jika berada pada level professional. Tapi tidak bagi guru vocational. Guru yang masuk dalam level ini tidak lagi terlalu mementingkan apa yang akan mereka dapatkan, tetapi lebih pada apa yang mereka bisa berikan untuk kemajuan siswa dan perkembangan sekolahnya. Bagi mereka, profesi sebagai guru bukan lagi suatu pekerjaan (working), melainkan sudah merupakan panggilan hidup (calling) sehingga mereka dapat merasakan bahwa mengajar bukanlah suatu beban melainkan tanggung jawab yang penuh kenikmatan. Keberadaan mereka di sekolah tidak hanya membawa pengaruh positif dan kegembiraan bagi semua warga sekolah, tetapi ketiadaannya pun membawa kerinduan tersendiri bagi siswa dan guru-guru lain di sekolah.


Dalam menghayati panggilannya sebagai seorang guru, dia juga menampilkan sosok sebagai seorang arsitek, yang bukan hanya mempunyai keahlian, keterampilan dan imajinasi yang diperlukan, tetapi juga berpikir siapa yang mau dilayani dan untuk siapa dia membuat desain itu. Secara sederhana, dia rela mengorbankan apapun yang melekat dalam dirinya demi untuk kepentingan siswa dan sekolahnya.


Profil guru yang ditampilkan dalam tiga karakter yang berbeda tersebut sesungguhnya memberikan gambaran bagi kita sebagai guru, sedang berada di posisi manakah kita sekarang. Jika berada pada level occupational, kita harus meningkatkan diri ke level profesional. Dan barang tentu jika kita terus menerus mengembangkan keahlian profesi kita, tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk melaju pada level guru vocational.


2 komentar:

  1. saya tertarik sekali dengan masalah budaya, apalagi generasi sekarang mulai tergerus dengan budaya pop, oleh karena itu saya mencoba membahas dan melestarikan salah satu budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia. Mohon masukan dan dukungannya ya, makasih :)

    BalasHapus
  2. thanks masukannya ...

    Salam kenal

    BalasHapus

TITIK TEMU BERBUKA PUASA & PENCIPTAAN LANGIT

Sejenak terpikir setelah membaca Kitab Fadhilah Ramadhan, mengapa kata berbuka = IFTHAR, yang arti asalnya pecah dan orang Inggris menyebutn...